Ketika memilih asuransi, kebanyakan orang membandingkan harga premi dan daftar manfaat polis. Padahal ada satu angka yang jauh lebih menentukan apakah klaim benar-benar dapat dibayar sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, yaitu Risk Based Capital atau RBC. Angka ini wajib dihitung dan dilaporkan setiap perusahaan asuransi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan dapat dilihat publik dalam laporan keuangan publikasi perusahaan.
Menariknya, kerangka RBC yang dipakai Indonesia selama lebih dari dua dekade sedang menghadapi perombakan terbesarnya. OJK menargetkan peraturan mengenai New RBC terbit sebelum akhir 2026, dengan pengukuran mulai 2027 dan penerapan sanksi pada akhir 2028. Sebelum masuk ke perubahan tersebut, ada baiknya kita pahami dahulu logika dasarnya.
Apa Itu Risk Based Capital?
RBC, atau secara resmi disebut rasio pencapaian tingkat solvabilitas, adalah perbandingan antara modal yang benar-benar tersedia pada sebuah perusahaan asuransi dengan modal minimum yang seharusnya ia miliki mengingat risiko yang ditanggungnya. Prinsipnya sederhana: semakin besar risiko yang dipikul sebuah perusahaan, semakin besar pula modal yang harus disediakan.
Modal yang tersedia disebut Tingkat Solvabilitas, yaitu selisih antara Aset Yang Diperkenankan (AYD) dan liabilitas. Kata “diperkenankan” penting di sini. Tidak semua aset boleh diperhitungkan; aset yang tidak memenuhi kriteria kualitas dan likuiditas tertentu dikeluarkan dari perhitungan, sehingga angka yang tersisa mencerminkan kekayaan yang benar-benar dapat diandalkan untuk membayar klaim. Sementara itu, kebutuhan modal minimumnya disebut Modal Minimum Berbasis Risiko (MMBR).
Ketentuan ini diatur dalam POJK Nomor 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi beserta perubahan dan peraturan turunannya. Di dalamnya, RBC bukan satu-satunya indikator kesehatan keuangan, tetapi ia adalah indikator yang paling sering dikutip karena mudah dibandingkan antarperusahaan.
Membaca Angka RBC dengan Benar
1. Rumus Dasarnya
RBC dihitung sebagai Tingkat Solvabilitas dibagi MMBR, lalu dikalikan 100 persen. Angka hasilnya menjawab satu pertanyaan: berapa kali lipat modal yang dimiliki perusahaan dibandingkan kebutuhan modal minimum atas risikonya.
2. Ilustrasi Sederhana
Misalkan sebuah perusahaan memiliki AYD sebesar Rp1.000 miliar dan liabilitas Rp800 miliar, sehingga Tingkat Solvabilitasnya Rp200 miliar. Jika perhitungan risiko menghasilkan MMBR sebesar Rp100 miliar, maka RBC-nya adalah 200 persen. Artinya, modal yang tersedia dua kali lipat dari kebutuhan modal minimum berbasis risiko. Angka pada ilustrasi ini bersifat hipotetis dan hanya digunakan untuk memperjelas mekanisme perhitungan.
3. Tiga Salah Kaprah yang Sering Terjadi
- RBC 200% bukan berarti aset perusahaan dua kali lipat total klaim. Pembanding dalam rumus adalah MMBR, yaitu bantalan modal atas risiko, bukan total kewajiban atau total klaim yang akan dibayar.
- RBC adalah potret pada satu tanggal, bukan garansi seumur hidup polis. Nilainya berubah mengikuti pergerakan pasar, asumsi aktuaria, dan pengalaman klaim, sehingga tren beberapa tahun lebih informatif daripada satu angka tunggal.
- RBC yang sangat tinggi tidak otomatis berarti paling unggul. Perusahaan kecil dengan MMBR kecil dapat mencatat rasio ribuan persen, sementara modal yang menganggur juga berarti efisiensi permodalan yang belum optimal.
Risiko Apa Saja yang Dihitung dalam MMBR?
Inilah bagian yang membuat RBC disebut berbasis risiko. MMBR bukan angka tunggal, melainkan penjumlahan kebutuhan modal atas berbagai jenis deviasi yang mungkin terjadi dalam pengelolaan aset dan liabilitas, antara lain:
- Kegagalan pengelolaan aset, yaitu kemungkinan turunnya nilai aset atau gagal bayar oleh pihak penerbit instrumen investasi.
- Ketidakseimbangan antara proyeksi arus aset dan arus liabilitas, yang membuat perusahaan berpotensi kekurangan dana tunai pada saat klaim jatuh tempo.
- Ketidakseimbangan nilai aset dan liabilitas dalam setiap jenis mata uang asing.
- Perbedaan antara beban klaim yang benar-benar terjadi dan beban klaim yang diperkirakan saat produk dirancang.
- Ketidakcukupan premi akibat hasil investasi yang diperoleh meleset dari asumsi yang dipakai dalam penetapan tarif, termasuk risiko perubahan tingkat bunga.
- Ketidakmampuan reasuradur memenuhi kewajibannya membayar klaim yang telah direasuransikan.
- Risiko operasional, seperti kegagalan proses internal, sistem, maupun sumber daya manusia.
Berapa Angka RBC yang Dianggap Sehat?
Ambang batas minimum yang berlaku saat ini adalah 120 persen. Angka ini sengaja dipasang di atas 100 persen agar perusahaan memiliki bantalan tambahan, bukan sekadar pas-pasan menutup kebutuhan modal minimum. OJK juga berwenang meminta perusahaan menetapkan target solvabilitas internal yang lebih tinggi bila profil risikonya dinilai meningkat.
Secara agregat, permodalan industri asuransi Indonesia berada jauh di atas ambang tersebut. Berdasarkan data OJK per April 2026, RBC industri asuransi jiwa tercatat 476,11 persen, sedangkan RBC asuransi umum dan reasuransi 311,74 persen. Meski demikian, angka industri adalah rata-rata. Kondisi tiap perusahaan bisa sangat berbeda, sehingga pemegang polis tetap perlu melihat angka perusahaan tempat ia membeli polis, bukan angka industri.
Menuju Rezim New RBC
OJK tengah memfinalisasi peraturan baru mengenai perhitungan solvabilitas yang populer disebut New RBC. Pendekatannya lebih sensitif terhadap risiko dan berorientasi ke depan, mendekati kerangka Solvency II di Eropa dan Insurance Capital Standard yang dikembangkan International Association of Insurance Supervisors. Salah satu pemicunya adalah penerapan PSAK 117 tentang kontrak asuransi, yang mengubah cara liabilitas asuransi diukur sehingga kerangka solvabilitas lama dinilai tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi perusahaan.
1. Batas Minimum Berubah, Target Internal Menjadi Wajib
Rasio solvabilitas minimum ditetapkan 100 persen, tetapi setiap perusahaan wajib menetapkan target internal paling sedikit 120 persen sebagai bantalan sesuai profil risikonya. Perusahaan yang ditetapkan sebagai perusahaan penting secara sistemik diwajibkan memasang target internal pada kisaran 135 hingga 150 persen, mirip konsep capital surcharge pada bank sistemik.
2. Kualitas Modal Dibedakan Berjenjang
New RBC memperkenalkan klasifikasi modal inti tidak terbatas (Tier 1 unlimited), modal inti terbatas (Tier 1 limited), dan modal pelengkap (Tier 2). Sejumlah pos seperti goodwill, aset tak berwujud, dan pajak tangguhan menjadi faktor pengurang modal. Konsekuensinya, sebagian perusahaan bisa mencatat rasio yang lebih rendah meskipun kondisi bisnisnya tidak berubah.
3. Cakupan Risiko Melebar dan ORSA Menjadi Kewajiban
Perhitungan MMBR mencakup lima kelompok risiko utama, yaitu risiko kredit, likuiditas, pasar, asuransi, dan operasional, dengan tambahan perhitungan untuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi. Selain itu, seluruh perusahaan wajib menyelenggarakan Own Risk and Solvency Assessment minimal satu kali setahun, yang mencakup penilaian kecukupan modal, stress testing, dan strategi pemeliharaan modal.
Apa Artinya bagi Pemegang Polis?
Bagi konsumen, RBC adalah alat saring awal yang murah dan mudah diakses. Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan sebelum membeli polis:
- Pastikan perusahaan memiliki izin usaha dari OJK dan mempublikasikan laporan keuangannya secara terbuka.
- Lihat angka RBC pada laporan publikasi, lalu bandingkan trennya selama tiga sampai lima tahun terakhir, bukan hanya angka terkini.
- Perhatikan indikator pendamping seperti rasio likuiditas, rasio klaim, kecukupan investasi, dan pemenuhan ketentuan ekuitas minimum sesuai POJK Nomor 23 Tahun 2023.
- Bersiaplah melihat angka RBC industri turun ketika New RBC berlaku. Penurunan itu mencerminkan metode pengukuran yang lebih ketat dan sensitif terhadap risiko, bukan otomatis berarti kesehatan perusahaan memburuk.
Pada akhirnya, RBC bukan sekadar angka kepatuhan yang dilaporkan ke regulator. Ia adalah cara sebuah industri menjawab pertanyaan paling mendasar dari pemegang polis: apakah janji yang tertulis di dalam polis masih akan sanggup ditepati ketika keadaan memburuk. Dengan rezim New RBC, jawaban atas pertanyaan itu akan diukur dengan cara yang lebih jujur terhadap risiko, dan itu kabar baik bagi siapa pun yang menaruh perlindungan finansialnya pada sebuah polis asuransi.
Sumber:
- POJK Nomor 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi
- POJK Nomor 23 Tahun 2023 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah
- Rancangan POJK tentang Perhitungan Solvabilitas Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi (New RBC)
- PSAK 117: Kontrak Asuransi, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia
- Insurance Capital Standard, International Association of Insurance Supervisors (IAIS)
- Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Juli 2026
- Laporan dan publikasi statistik perasuransian Otoritas Jasa Keuangan


