Pekerjaan aktuaris tidak berhenti ketika sebuah tarif premi ditetapkan atau sebuah cadangan dihitung. Asumsi yang digunakan hari ini akan diuji oleh kenyataan di masa depan: tingkat kematian dapat berubah, suku bunga dapat bergerak, dan perilaku pemegang polis dapat bergeser. Karena itu, aktuaris memerlukan cara berpikir yang sistematis dan berulang untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan tetap tepat dari waktu ke waktu.
Cara berpikir inilah yang dirangkum dalam actuarial control cycle, sebuah kerangka kerja yang kini menjadi bagian inti pendidikan aktuaris di berbagai negara, termasuk dalam kurikulum Institute and Faculty of Actuaries (IFoA) dan Actuaries Institute Australia.
Asal-Usul Actuarial Control Cycle
Konsep control cycle pertama kali diperkenalkan oleh Jeremy Goford pada 1985 melalui makalah berjudul “The Control Cycle: Financial Control of a Life Assurance Company” di Journal of the Staple Inn Actuarial Society. Goford menggambarkan bagaimana hasil aktual perusahaan asuransi jiwa dibandingkan dengan proyeksi dalam profit test, lalu hasil perbandingan tersebut diumpankan kembali untuk memperbaiki dasar proyeksi berikutnya.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi kerangka kerja yang berlaku umum untuk seluruh bidang praktik aktuaria, tidak hanya asuransi jiwa. Pengembangan ini dituangkan dalam buku Understanding Actuarial Management: The Actuarial Control Cycle yang disunting oleh Clare Bellis, Richard Lyon, dan John Shepherd dan diterbitkan oleh Institute of Actuaries of Australia. Buku ini menjadi rujukan utama dalam pengajaran actuarial control cycle.
Tiga Tahap Utama Actuarial Control Cycle
Actuarial control cycle terdiri atas tiga tahap yang saling terhubung dan membentuk siklus. Berikut penjelasannya:
1. Merumuskan Masalah (Specifying the Problem)
Tahap ini bertujuan memahami masalah secara utuh sebelum mencari solusi. Aktuaris mengidentifikasi masalah dan kebutuhan para pemangku kepentingan, risiko yang dihadapi, serta batasan yang berlaku, seperti ketentuan regulasi, kondisi pasar, dan ketersediaan data. Masalah yang dirumuskan dengan keliru hampir pasti menghasilkan solusi yang keliru, seberapa canggih pun perhitungannya.
2. Mengembangkan Solusi (Developing the Solution)
Pada tahap ini, aktuaris membangun model, mengumpulkan dan menelaah data, serta menetapkan asumsi, misalnya asumsi mortalitas, tingkat pengunduran diri, biaya, dan tingkat bunga. Model tersebut digunakan untuk menguji beberapa alternatif solusi. Analisis sensitivitas juga dilakukan untuk mengetahui asumsi mana yang paling berpengaruh terhadap hasil sehingga perlu dipantau secara khusus.
3. Memantau Pengalaman (Monitoring the Experience)
Setelah solusi diterapkan, aktuaris membandingkan pengalaman aktual dengan asumsi yang digunakan. Analisis ini sering disebut actual versus expected analysis. Selisih yang ditemukan dianalisis penyebabnya, apakah bersifat sementara atau menunjukkan perubahan tren. Hasil pemantauan kemudian menjadi masukan untuk merumuskan kembali masalah dan memperbarui solusi pada siklus berikutnya.
Lingkungan yang Melingkupi Siklus
Ketiga tahap di atas tidak berjalan di ruang hampa. Dalam kerangka actuarial control cycle, siklus tersebut dilingkupi oleh dua unsur penting berikut:
- Lingkungan komersial dan ekonomi umum: kondisi perekonomian, regulasi, perpajakan, persaingan pasar, dan perubahan demografi yang memengaruhi setiap tahap siklus.
- Profesionalisme: kode etik, standar praktik, dan pertimbangan profesional yang menjadi landasan aktuaris dalam memberikan nasihat yang dapat dipercaya.
Contoh Penerapan dalam Penetapan Tarif Produk Asuransi
Misalkan sebuah perusahaan asuransi jiwa hendak meluncurkan produk asuransi berjangka. Pada tahap perumusan masalah, aktuaris mengidentifikasi sasaran pasar, target laba perusahaan, dan ketentuan regulasi yang berlaku. Pada tahap pengembangan solusi, aktuaris menyusun model profit test, menetapkan asumsi berdasarkan data pengalaman dan tabel mortalitas, lalu menguji beberapa alternatif tarif.
Setelah produk dipasarkan, aktuaris memantau klaim, tingkat pengunduran diri, dan biaya secara berkala. Jika klaim ternyata lebih tinggi dari asumsi, aktuaris dapat merekomendasikan penyesuaian tarif, perubahan kebijakan seleksi risiko, atau penyesuaian dukungan reasuransi. Siklus pun berulang dengan informasi yang lebih baik.
Actuarial control cycle mengingatkan bahwa pekerjaan aktuaria adalah proses yang berkesinambungan, bukan perhitungan sekali jadi. Dengan merumuskan masalah secara tepat, mengembangkan solusi yang teruji, dan memantau pengalaman secara disiplin, aktuaris dapat membantu organisasi mengelola risiko secara lebih baik dan menjaga kepentingan para pemangku kepentingan.
Sumber:
- Goford, J. (1985). The Control Cycle: Financial Control of a Life Assurance Company. Journal of the Staple Inn Actuarial Society, 28, 99–114
- Bellis, C., Lyon, R., & Shepherd, J. (Ed.). Understanding Actuarial Management: The Actuarial Control Cycle. Institute of Actuaries of Australia
- Institute and Faculty of Actuaries (IFoA), Subject CP1 Actuarial Practice
- Actuaries Institute (Australia), Actuarial Control Cycle Subject Syllabus


